Minggu, 06 April 2014

Uji Postulat Koch



IDENTIFIKASI CENDAWAN PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT BUSUK BUAH KEDONDONG
(Spondias cytherea)





Disusun Oleh:



ARIFDA AYU     (A352130101)
SITI JUARIAH   (A352130191)

















Dosen:
Dr. Ir. Evi Toding Tondok, M. Sc.




PROGRAM STUDI FITOPATOLOGI
PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014




BAB 1
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Kedondong (Spondias cytherea Forst.) merupakan tanaman buah yang berasal dari famili Anacardiaceae.  Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara dan Asia Selatan.  Tanaman ini juga banyak tumbuh di daerah tropis (Prihatman, 2004).

Selain buahnya dikonsumsi, bagian tanaman yang lainya seperti buah, daun, kulit batangnya banyak dimanfaatkan sebagai obat. Bebepara negara melaporkan adanya manfaat untuk pengobatan luka kulit, luka bakar, dan kulit perih (Prihatman, 2004). Bahkan beberapa penelitian telah melaporkan ekstrak daun kedondong mengandung antibiotik yang dapat digunakan untuk antifungi dan antibakteri (Fitriani, 2013).

Pada umumnya buah kedondong dipanen dengan cara tradisional dan penanganan pasca panen yang kurang baik, mengakibatkan adanya luka-luka yang terjadi selama proses panen dan pasca panen.  Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kehilangan hasil saat pascapanen, salah satunya adannya infeksi cendawan. Infeksi dan perkembangan cendawan selama di penyimpanan dan saat pengangkutan besar pengaruhnya (1.45%) terhadap penurunan kualitas buah dibandingkan faktor lain.  Luka-luka akibat penanganan pasca panen yang kurang baik dapat menjadi jalan bagi patogen untuk menginfeksi buah (Daulmarie. S, 1994; Mohammed, 2006). 

Beberapa penyakit yang sudah dilaporkan dapat menyerang tanaman kedondong antara lain dari kelompok nematoda Scutellonouma brachyurum dan Meloydogyne sp., drai kelompok cendawan Lasiodiplodia, Tripospermum sp. Phytophthora sp., dan Colletotrichum sp. (Daulmarie. S, 1994).

Pada umumnya penyakit yang tanaman kedondong yang banyak dilaporkan merupakan penyakit yang menginfeksi tanaman, sedangkan penyakit pesca panen belum banyak dilaporkan.  Untuk penyakit yang baru ditemukan, identifikasi dapat dilakukan dengan mengikuti kaidah postulat Koch.  Prosedur Postulat Koch terdiri dari 4 langkah sebagai berikut (Agrios, 2005) :
1.      Patogen harus berasosiasi dengan tanaman inang
2.      Patogen harus dapat diisolasi dan ditumbuhkan dalam biakan murni
3.      Patogen dari biakan murni dapat diinokulasi ke tanaman inang yang rentan dan menimbulkan gejala yang sama seperti gejala awal
4.      Patogen harus dapat diisolasi kembali dan dibiakan dalam media serta menunjukkan karakteristik yang sama dengan isolasi awal

1.2  Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Postulat Koch ini adalah untuk mengetahui cendawan yang menginfeksi buah kedondong.

















BAB 2
METODOLOGI PERCOBAAN


2.1 Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum adalah laminar air flow, oven, autoclaf, pemanas, Erlenmeyer, bunsen, korek api, gunting, cutter, wadah, ose, dan cawan Petri. Dan bahan yang digunakan adalah buah kedondong yang terserang busuk buah oleh cendawan patogen, air steril, alkohol 70%, media PDA (Potatoes Dextrose Agar), klorox 1%, tissue, dan spritus.

2.2 Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum dan pengamatan dilakukan di Laboratorium Pendidikan dan Laboratorium Mikologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada tanggal 16 November–27 Desember 2013.


2.3 Metode Percobaan
2.3.1 Pembuatan Media PDA

Kentang 200 gr dikupas, lalu dipotong dadu dan direbus. Air rebusan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 200 ml. Dextrose 20 gr dan agar 20 gr dimasukkan ke dalam air rebusan, lalu diaduk rata hingga mendidih. Kemudian, larutan diautoklaf selama ±1 jam dengan suhu 120-150oC. Setelah steril, media dimasukkan ke dalam cawan Petri steril.

2.3.2 Isolasi Cendawan Patogen

Buah kedondong yang terserang busuk buah oleh cendawan disediakan. Bagian permukaan buah yang terserang busuk dipotong menggunakan cutter steril dan dimasukkan ke dalam larutan klorox 1% selama 1 menit, lalu dipindahkan ke dalam wadah yang berisi air steril. Rendam selama 1 menit, lalu dimasukkan lagi ke dalam air steril yang baru, rendam selama 1 menit. Setelah itu, potongan buah dimasukkan ke dalam cawan Petri yang berisi media PDA secara steril menggunakan laminar air flow. Inkubasi selama 4 hari. Amati isolat cendawan yang tumbuh di media PDA. Buat biakan murninya. Diidentifikasi cendawan patogen yang didapat.

Sesuai kunci identifikasi Barnet dan Hunter (1998), identifikasi secara makroskopis dilakukan dengan mengamati morfologi cendawan dengan melihat warna koloni pada media PDA, sedangkan secara mikrokopis yaitu mengamati mikrokonidia, makrokonidia, miselium, konidiofor, dan percabangan hifa pada mikroskop compound.

2.3.3 Inokulasi Cendawan Patogen

Buah kedondong sehat disediakan. Permukaan buah disterilkan dengan cara direndam di dalam alkohol 70% selama beberapa detik. Buah diletakkan di atas wadah yang telah dialasi tissue. Permukaan buah dilukai dengan cara dipotong berukuran 1x1 cm dengan menggunakan cutter steril. Biakan murni cendawan dipotong berukuran 1x1 cm, lalu diambil potongan cendawan bersama medianya dan ditempelkan di permukaan buah kedondong dilakukan secara steril di dalam laminar air flow. Ulangan dilakukan sebanyak 3x.  Diamati gejala yang muncul pada buah. Disamakan dengan gejala awal isolasi cendawan.




2.3.4 Reisolasi Cendawan Patogen  

            Buah kedondong yang telah diamati dan disamakan gejalanya dengan gejala awal isolasi disediakan. Bagian permukaan yang terserang busuk dipotong, lalu direndam dalam klorox 1% selama 1 menit. Potongan buah dipindahkan ke dalam air steril, rendam selama 1 menit. Lalu dimasukkan ke dalam air steril lagi selama 1 menit. Potongan buah dimasukkan ke dalam cawan Petri steril berisi media PDA dilakukan secara steril di dalam laminar air flow. Diinkubasi selama 4 hari. Diamati pertumbuhan cendawan, lalu dibuat biakan murninya dan diidentifikasi. Diharapkan cendawan yang didapat sama dengan cendawan isolasi awal.

2.3.5 Identifikasi Cendawan Hasil Isolasi

Identifikasi dilakukan pada biakan murni hasil isolasi awal dan biakan murni hasil reisolasi.  Identifikasi dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Sesuai kunci identifikasi Barnet dan Hunter (1998). Identifikasi secara makroskopis dilakukan dengan mengamati morfologi cendawan dengan melihat warna koloni dan bentuk koloni pada media PDA, sedangkan secara mikrokopis yaitu dengan mengamati struktur cendawan menggunakan mikroskop compound.















BAB 3
HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Isolasi Cendawan Patogen

Dari hasil isolasi cendawan patogen pada buah yang terserang busuk dengan gejala pada permukaan kulit buah berwarna coklat kehitaman, dan kering (Gambar 1A) diperoleh cendawan patogen dengan ciri-ciri miselium cendawan berwarna putih keabu-abuan, semakin tua umur koloni warnanya menjadi semakin hitam.  Bentuk koloninnya seperti kapas tebal yang menyembul ke atas (Gambar 1C). Pertumbuhan cendawan pada media PDA sangat cepat, pada 5 hari setelah isolasi cendawan telah tumbuh penuh dalam cawan petri.






                    A                                        B                                           C

Gambar 1. Hasil isolasi cendawan patogen pada buah kedondong (a) Buah kedondong terserang busuk buah (b) Hasil isolasi cendawan patogen pada media PDA (c) Isolat murni cendawan patogen

Jenis penyakit yang sering muncul pada buah kedondong adalah Phytophthora, Fusarium, Diplodia, Gloesporium, dan Phoma. Penyakit ini biasanya menyerang buah, batang, atau daun. Pada umumnya penyakit pasca pascapanen menginfeksi ketika adanya luka mekanis pada buah.



3.2 Inokulasi Cendawan Patogen

Dari hasil inokulasi cendawan patogen dari buah kedondong, dapat dilihat pada buah kedondong yang sehat awalnya pada hari ke-3 setelah inokulasi  muncul gejala pada buah kedondong yaitu pada area sekitar pelekatan cendawan patogen berwarna kecoklatan, cekung, lama kelamaan cekungan semakin melebar dan kering. Hal ini dapat membuktikan gejala yang ditimbulkan dari inokulasi pada buah sehat menunjukkan gejala yang sama dengan buah kedondong yang terserang busuk buah pada awal isolasi.









                       

Gambar 2. Hasil inokulasi cendawan patogen terhadap buah kedondong dengan gejala coklat yaitu bercak coklat kehitaman yang cekung.


 3.3 Reisolasi Cendawan Patogen

Reisolasi dilakukan pada hari ke-8 setelah inokulasi pada buah kedondong.  Hasil reisolasi (Gambar 3C) diperoleh cendawan dengan karakteristik sama dengan cendawan pada awal isolasi (Gambar 3A) yaitu berupa miselium putih keabu-abuan, dan koloninya seperti kapas tebal yang menumpuk di permukaan atasnya.











                  A                                           B                                             C

Gambar 3. Hasil reisolasi cendawan patogen pada buah kedondong (a) Isolat murni cendawan patogen (b) Gejala muncul pada buah kedondong (c) Cendawan patogen hasil reisolasi

3.4 Identifikasi

Identifikasi dilakukan terhadap biakan murni hasil isolasi dan reisolasi.  Identifikasi dilakukan dengan mengamati karakteristik makroskopis dan mikroskopis dan dibandingkan dengan buku identifikasi.  Karakter mikroskopis cendawan berupa hifa bercabang, bersepta, dan hialin.  Pengamatan karakteristik mikroskopis yang dilakukan secara mikroskopis ini tidak ditemukan konidia atau spora. Sehingga identifikasi dilakukan hanya berdasarkan karakteristik makroskopis berupa warna dan bentuk koloni, dan karakteristik mikroskopisnya berupa bentuk hifa dan tipe gejala.  Dari hasil identifikasi diasumsikan bahwa cendawan merupakan cendawan dari genus Phoma.








Gambar 4. Hifa cendawan yang diduga dari genus Phoma, hifanya bercabang, bersepta, dan hialin.

Phoma sp. merupakan patogen yang umumnya menyerang komoditas di penyimpanan atau pasca panen (Semangun, 2000; Ploetz, 2003). Gejala akibat infeksi Phoma sp. berupa lesio dengan ukuran kecil berwarna coklat gelap dan kering.  Lesio dapat meluas dan warnannya menjadi hitam, sedikit cekung dan bentuk lesionya tidak beraturan (Ploetz, 2003). 






























BAB 4
KESIMPULAN



Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah cendawan patogen yang menyebabkan busuk buah pada kedondong dengan ciri-ciri miselium berwarna putih keabu-abuan, hifa bersekat, bercabang, hialin, dan tidak memiliki spora/konidia dapat diinokulasi pada buah kedondong sehat menimbulkan gejala yang sama dan hasil reisolasi cendawan juga merupakan patogen yang sama sesuai dengan Postulat Koch. Cendawan diduga merupakan cendawan genus Phoma.




















DAFTAR PUSTAKA


Agrios, G.N. 2005. Plant Pathology 5th edition. Academic Press, San Diego

Barnett, HL & BB Hunter. 1998. Illustrated Genera of Imperfect Fungi 4 th edition. APS Press, USA

Daulmarie. S. 1994. Investigations on Golden apple (Spondias chyterea) Production with Particular Reference to Post-Harvest Technology and Processing. Inter American Institute for Cooperation on Agriculture.

Fitriani, S. Raharjo. Mulyoni, G. 2013. Aktivitas Antifungi Ekstrak Daun Kedondong (Spondias pinnata) dalam Menghambat Pertumbuhan Aspergillus flavus.  LenteraBio Vol 2. No 2: 125-129

Mohammed, M. 2006. Postharvest Handling of Golden Apple. The University of West Indies. Trinidan and Tobago

Ploetz, C., Randy.2003. Disease of Tropical Fruit Crops. Research and Education Center, University of Florida. CABI Publishing. USA.

Prihatman. 2004. Tanaman Buah Kedondong. Post Pelayanan Informasi Masyarakat UKM. [terhubung berkala]. http://ukm.pempropsu.go.id/info.detail.php.tanamanbuah_kedondong.   [3 januari 2014]

Semangun, H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. UGM Press. Yogyakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar