IDENTIFIKASI CENDAWAN PATOGEN PENYEBAB
PENYAKIT BUSUK BUAH KEDONDONG
(Spondias cytherea)
Disusun Oleh:
ARIFDA AYU (A352130101)
SITI JUARIAH (A352130191)
Dosen:
Dr. Ir. Evi Toding Tondok, M. Sc.
PROGRAM STUDI FITOPATOLOGI
PASCASARJANA
2014
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kedondong (Spondias cytherea
Forst.) merupakan tanaman buah yang berasal dari famili Anacardiaceae. Tanaman ini berasal dari Asia
Tenggara dan Asia Selatan. Tanaman ini juga banyak tumbuh di daerah tropis (Prihatman, 2004).
Selain buahnya dikonsumsi, bagian tanaman yang lainya
seperti buah, daun, kulit batangnya banyak dimanfaatkan sebagai obat. Bebepara
negara melaporkan adanya manfaat untuk pengobatan luka kulit, luka bakar, dan
kulit perih (Prihatman, 2004). Bahkan
beberapa penelitian telah melaporkan ekstrak daun kedondong mengandung
antibiotik yang dapat digunakan untuk antifungi dan antibakteri (Fitriani,
2013).
Pada umumnya buah
kedondong dipanen dengan cara tradisional dan penanganan pasca panen yang
kurang baik, mengakibatkan adanya luka-luka yang terjadi selama proses panen
dan pasca panen. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan
kehilangan hasil saat pascapanen, salah satunya adannya infeksi cendawan.
Infeksi dan perkembangan cendawan selama di penyimpanan dan saat pengangkutan
besar pengaruhnya (1.45%) terhadap penurunan kualitas buah dibandingkan faktor
lain. Luka-luka akibat penanganan pasca
panen yang kurang baik dapat menjadi jalan bagi patogen untuk menginfeksi buah
(Daulmarie. S, 1994; Mohammed, 2006).
Beberapa penyakit yang sudah
dilaporkan dapat menyerang tanaman kedondong antara lain dari kelompok nematoda
Scutellonouma brachyurum dan Meloydogyne sp., drai kelompok cendawan Lasiodiplodia, Tripospermum sp. Phytophthora
sp., dan Colletotrichum sp. (Daulmarie. S, 1994).
Pada umumnya penyakit yang
tanaman kedondong yang banyak dilaporkan merupakan penyakit yang menginfeksi
tanaman, sedangkan penyakit pesca panen belum banyak dilaporkan. Untuk penyakit yang baru ditemukan, identifikasi dapat dilakukan dengan mengikuti kaidah
postulat Koch. Prosedur
Postulat Koch terdiri dari 4 langkah sebagai berikut (Agrios, 2005) :
1. Patogen harus berasosiasi dengan tanaman inang
2. Patogen harus dapat diisolasi dan ditumbuhkan
dalam biakan murni
3. Patogen dari biakan murni dapat diinokulasi
ke tanaman inang yang rentan dan menimbulkan gejala yang sama seperti gejala
awal
4. Patogen harus dapat diisolasi kembali dan
dibiakan dalam media serta menunjukkan karakteristik yang sama dengan isolasi
awal
1.2 Tujuan
Praktikum
Tujuan dari praktikum Postulat
Koch ini adalah untuk mengetahui cendawan yang menginfeksi buah kedondong.
BAB 2
METODOLOGI PERCOBAAN
2.1 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam
praktikum adalah laminar air flow, oven,
autoclaf, pemanas, Erlenmeyer, bunsen, korek api, gunting, cutter, wadah, ose, dan cawan Petri. Dan bahan yang digunakan
adalah buah kedondong yang terserang busuk buah oleh cendawan patogen, air
steril, alkohol 70%, media PDA (Potatoes
Dextrose Agar), klorox 1%, tissue, dan spritus.
2.2 Waktu dan Tempat
Praktikum
Praktikum dan pengamatan dilakukan di Laboratorium Pendidikan dan Laboratorium Mikologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada tanggal 16 November–27 Desember 2013.
2.3 Metode Percobaan
2.3.1 Pembuatan Media
PDA
Kentang 200 gr dikupas, lalu
dipotong dadu dan direbus. Air rebusan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 200 ml. Dextrose 20 gr dan agar 20 gr dimasukkan
ke dalam air rebusan, lalu diaduk rata hingga mendidih. Kemudian, larutan
diautoklaf selama ±1 jam dengan suhu 120-150oC. Setelah steril,
media dimasukkan ke dalam cawan Petri steril.
2.3.2 Isolasi
Cendawan Patogen
Buah kedondong yang terserang
busuk buah oleh cendawan disediakan. Bagian permukaan buah yang terserang busuk
dipotong menggunakan cutter steril
dan dimasukkan ke dalam larutan klorox 1% selama 1 menit, lalu dipindahkan ke
dalam wadah yang berisi air steril. Rendam selama 1 menit, lalu dimasukkan lagi
ke dalam air steril yang baru, rendam selama 1 menit. Setelah itu, potongan
buah dimasukkan ke dalam cawan Petri yang berisi media PDA secara steril
menggunakan laminar air flow. Inkubasi selama 4 hari. Amati
isolat cendawan yang tumbuh di media PDA. Buat biakan murninya. Diidentifikasi
cendawan patogen yang didapat.
Sesuai kunci identifikasi Barnet dan Hunter (1998), identifikasi secara makroskopis dilakukan dengan mengamati
morfologi cendawan dengan melihat warna koloni pada media PDA, sedangkan secara
mikrokopis yaitu mengamati mikrokonidia, makrokonidia, miselium, konidiofor, dan percabangan hifa pada
mikroskop compound.
2.3.3 Inokulasi
Cendawan Patogen
Buah kedondong sehat disediakan. Permukaan
buah disterilkan dengan cara direndam di dalam alkohol 70% selama beberapa
detik. Buah diletakkan di atas wadah yang telah dialasi tissue. Permukaan buah
dilukai dengan cara dipotong berukuran 1x1 cm dengan menggunakan cutter steril. Biakan murni cendawan
dipotong berukuran 1x1 cm, lalu diambil potongan cendawan bersama medianya dan
ditempelkan di permukaan buah kedondong dilakukan secara steril di dalam laminar air flow. Ulangan dilakukan
sebanyak 3x. Diamati gejala yang muncul
pada buah. Disamakan dengan gejala awal isolasi cendawan.
2.3.4 Reisolasi
Cendawan Patogen
Buah
kedondong yang telah diamati dan disamakan gejalanya dengan gejala awal isolasi
disediakan. Bagian permukaan yang terserang busuk dipotong, lalu direndam dalam
klorox 1% selama 1 menit. Potongan buah dipindahkan ke dalam air steril, rendam
selama 1 menit. Lalu dimasukkan ke dalam air steril lagi selama 1 menit.
Potongan buah dimasukkan ke dalam cawan Petri steril berisi media PDA dilakukan
secara steril di dalam laminar air flow.
Diinkubasi selama 4 hari. Diamati pertumbuhan cendawan, lalu dibuat biakan
murninya dan diidentifikasi. Diharapkan cendawan yang didapat sama dengan
cendawan isolasi awal.
2.3.5 Identifikasi
Cendawan Hasil Isolasi
Identifikasi dilakukan pada biakan murni hasil isolasi awal dan biakan murni hasil reisolasi. Identifikasi dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Sesuai kunci
identifikasi Barnet dan Hunter (1998). Identifikasi secara makroskopis dilakukan dengan mengamati
morfologi cendawan dengan melihat warna koloni dan bentuk koloni pada media PDA, sedangkan secara mikrokopis
yaitu dengan mengamati struktur cendawan menggunakan mikroskop compound.
BAB 3
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Isolasi Cendawan
Patogen
Dari hasil isolasi cendawan
patogen pada buah yang terserang busuk dengan gejala pada permukaan kulit buah berwarna
coklat kehitaman, dan kering (Gambar 1A) diperoleh cendawan patogen dengan
ciri-ciri miselium cendawan berwarna putih keabu-abuan, semakin tua umur koloni warnanya menjadi semakin
hitam. Bentuk koloninnya seperti kapas
tebal yang menyembul ke atas (Gambar 1C). Pertumbuhan cendawan pada media PDA sangat
cepat, pada 5
hari setelah isolasi cendawan telah tumbuh penuh dalam cawan
petri.
A B C
Gambar 1. Hasil
isolasi cendawan patogen pada buah kedondong (a) Buah kedondong terserang busuk
buah (b) Hasil isolasi cendawan patogen pada media PDA (c) Isolat murni
cendawan patogen
Jenis penyakit yang sering muncul
pada buah kedondong adalah Phytophthora,
Fusarium, Diplodia, Gloesporium,
dan Phoma. Penyakit ini biasanya
menyerang buah, batang, atau daun. Pada umumnya penyakit pasca pascapanen
menginfeksi ketika adanya luka mekanis pada buah.
3.2 Inokulasi
Cendawan Patogen
Dari hasil inokulasi cendawan patogen
dari buah kedondong, dapat dilihat pada buah kedondong yang sehat awalnya pada hari
ke-3 setelah inokulasi muncul gejala
pada buah kedondong yaitu pada area sekitar pelekatan cendawan patogen berwarna
kecoklatan, cekung, lama kelamaan cekungan semakin melebar dan kering. Hal ini
dapat membuktikan gejala yang ditimbulkan dari inokulasi pada buah sehat
menunjukkan gejala yang sama dengan buah kedondong yang terserang busuk buah
pada awal isolasi.
Gambar 2. Hasil
inokulasi cendawan patogen terhadap buah kedondong dengan gejala coklat yaitu bercak coklat kehitaman yang cekung.
3.3
Reisolasi Cendawan Patogen
Reisolasi dilakukan pada hari
ke-8 setelah inokulasi pada buah kedondong.
Hasil reisolasi (Gambar 3C) diperoleh cendawan dengan karakteristik sama
dengan cendawan pada awal isolasi (Gambar 3A) yaitu berupa miselium putih
keabu-abuan, dan koloninya seperti kapas tebal yang menumpuk di permukaan
atasnya.
A B C
Gambar 3. Hasil
reisolasi cendawan patogen pada buah kedondong (a) Isolat murni cendawan
patogen (b) Gejala muncul pada buah kedondong (c) Cendawan patogen hasil
reisolasi
3.4 Identifikasi
Identifikasi dilakukan terhadap
biakan murni hasil isolasi dan reisolasi.
Identifikasi dilakukan dengan mengamati karakteristik makroskopis dan
mikroskopis dan dibandingkan dengan buku identifikasi. Karakter mikroskopis cendawan berupa hifa
bercabang, bersepta, dan hialin. Pengamatan
karakteristik mikroskopis yang dilakukan secara mikroskopis ini tidak ditemukan
konidia atau spora. Sehingga identifikasi dilakukan hanya berdasarkan
karakteristik makroskopis berupa warna dan bentuk koloni, dan karakteristik
mikroskopisnya berupa bentuk hifa dan tipe gejala. Dari hasil identifikasi diasumsikan bahwa
cendawan merupakan cendawan dari genus Phoma.
Gambar 4. Hifa
cendawan yang diduga dari genus Phoma,
hifanya bercabang, bersepta, dan hialin.
Phoma sp. merupakan patogen yang umumnya menyerang komoditas di penyimpanan
atau pasca panen (Semangun, 2000; Ploetz, 2003). Gejala akibat infeksi Phoma sp. berupa lesio dengan ukuran
kecil berwarna coklat gelap dan kering.
Lesio dapat meluas dan warnannya menjadi hitam, sedikit cekung dan
bentuk lesionya tidak beraturan (Ploetz, 2003).
BAB 4
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari praktikum
ini adalah cendawan patogen yang menyebabkan busuk buah pada kedondong dengan
ciri-ciri miselium berwarna putih keabu-abuan, hifa bersekat, bercabang, hialin,
dan tidak memiliki spora/konidia dapat diinokulasi pada buah kedondong sehat
menimbulkan gejala yang sama dan hasil reisolasi cendawan juga merupakan
patogen yang sama sesuai dengan Postulat Koch. Cendawan diduga merupakan
cendawan genus Phoma.
DAFTAR PUSTAKA
Agrios, G.N. 2005. Plant Pathology
5th edition. Academic Press, San Diego
Barnett, HL & BB
Hunter. 1998. Illustrated Genera of Imperfect Fungi 4 th edition. APS Press,
USA
Daulmarie. S. 1994. Investigations on Golden
apple (Spondias chyterea) Production
with Particular Reference to Post-Harvest Technology and Processing. Inter American Institute for Cooperation on
Agriculture.
Fitriani, S. Raharjo.
Mulyoni, G. 2013. Aktivitas
Antifungi Ekstrak Daun Kedondong (Spondias pinnata) dalam Menghambat
Pertumbuhan Aspergillus flavus. LenteraBio Vol 2. No 2: 125-129
Mohammed, M. 2006. Postharvest Handling of
Golden Apple. The University of West Indies. Trinidan and Tobago
Ploetz,
C., Randy.2003. Disease of Tropical Fruit
Crops. Research and Education Center, University of Florida. CABI
Publishing. USA.
Prihatman. 2004.
Tanaman Buah Kedondong. Post Pelayanan Informasi Masyarakat UKM. [terhubung berkala].
http://ukm.pempropsu.go.id/info.detail.php.tanamanbuah_kedondong. [3 januari 2014]
Semangun, H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. UGM Press. Yogyakarta.